DOREA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani https://ojs.sttcianjur.ac.id/index.php/dorea <p><strong>Jurnal Dorea </strong>adalah jurnal teologi yang diterbitkan oleh STT Cianjur. Jurnal ini memuat masalah-masalah teologi dan pendidikan kristiani terkini secara global dan juga masalah-masalah yang muncul dalam masyarakat. Tulisan-tulisan yang dimuat dalam jurnal ini adalah tulisan dari berbagai penulis yang memiliki perspektif yang berbeda sehingga apa yang dimuat dalam jurnal ini tidak mewakili pandangan institusi STT Cianjur. Jurnal ini bertujuan melengkapi para pelayan Tuhan dalam berbagai bidang pelayanan gereja sehingga dapat menyingkapi permasalahan teologis maupun pendidikan kristiani yang muncul dalam masyarakat.</p> <p>Adapun ruang lingkup dari <strong>Jurnal Dorea</strong>:</p> <p><strong>1. Teologi Biblika (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru)</strong><br /><strong>2. Teologi Sistematika</strong><br /><strong>3. Teologi Praktika</strong><br /><strong>4. Misiologi<br />5. Pendidikan Kristiani (Keluarga, Sekolah, Masyarakat)</strong></p> en-US Sun, 31 Dec 2023 22:54:45 +0700 OJS 3.3.0.13 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Konsep Kasih Menurut St. Maximus the Confessor: Keadaan Jiwa yang Kudus untuk Mengenal Allah https://ojs.sttcianjur.ac.id/index.php/dorea/article/view/7 <p><em>The article discusses love from the point of view of St. Maximus in his book "The Philokalia, the complete text volume 2. In this book, there are several discussions related to human life, both spiritually and physically. An article written by the author aims to provide a new understanding of love so that readers can understand that love is not only known as an attitude that does good. Precisely love, in the beginning, is the state of the holy human soul, which will introduce God personally and, in essence, will make humans take steps to make good love to humans, especially God. Exercising love will help humans stay away from evil thoughts because humans will only think about God, not do evil or outside what God doesn't want. Because the essence of man was created by God to be able to glorify Him and do His will</em>.</p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Sebuah artikel yang membahas tentang kasih dari sudut pandang St. Maximus didalam bukunya “The Philokalia the complete text volume 2. Di dalam buku ini ada beberapa pembahasan yang berkaitan tentang kehidupan manusia baik secara rohani maupun jasmani. Sebuah artikel yang ditulis oleh penulis bertujuan untuk memberikan pemahaman baru mengenai konsep kasih sehingga pembaca akan dapat mengerti bahwa ternyata kasih tidak hanya dikenal sebagai sikap yang melakukan kebaikan. Justru kasih pada mulanya adalah keadaan jiwa manusia yang kudus, yang akan memperkenalkan Allah secara pribadi, dan pada hakikatnya akan membuat manusia melangkah dapat melakukan kasih baik kepada manusia terlebih-lebih kepada Allah. Menjalankan kasih akan menolong diri manusia jauh dari pikiran jahat sebab manusia hanya akan memikirkan Allah saja tidak untuk berbuat jahat atau diluar yang tidak diinginkan Allah. Karena hakikatnya manusia diciptakan Allah untuk dapat memuliakan-Nya dan melakukan kehendak-Nya.</p> Winda Dian Hartati Zebua, Hendi Wijaya Copyright (c) 2023 DOREA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani https://ojs.sttcianjur.ac.id/index.php/dorea/article/view/7 Sun, 31 Dec 2023 00:00:00 +0700 Pengaruh Pelaksanaan Kelompok Sel terhadap Pertumbuhan Kuantitatif Jemaat https://ojs.sttcianjur.ac.id/index.php/dorea/article/view/17 <p><em>The cell group is the smallest part of a church. As a body consisting of various small but alive cells that continue to multiply. Likewise, ideally, the cell group is the smallest part of the church but is always alive and continues to multiply. Cell groups in a church, if managed properly, will have many positive effects for the church. This study aimed to determine the effect of cell groups on the growth of church congregations. The method used in this study uses quantitative research methods using survey methods. The results showed a significant and positive effect on the growth of church members after the implementation of cell groups. The implementation of the cell group, which is neatly arranged and ideally, causes the growth in the number of congregations to increase.</em></p> <p> </p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kelompok sel merupakan bagian terkecil yang terdapat dalam sebuah gereja. Sebagaimana tubuh yang terdiri dari berbagai sel yang kecil, tetapi terus hidup dan terus mengalami multiplikasi. Demikian juga secara idealnya kelompok sel adalah bagian terkecil dari gereja, tetapi selalu hidup dan terus mengalami multiplikasi. Kelompok sel dalam suatu gereja, apabila dikelola dengan baik akan memiliki banyak pengaruh positif bagi gereja tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kelompok sel terhadap pertumbuhan jumlah jemaat gereja. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan metode penelitian kuantitatif dengan memakai metode survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dan positif antara pelaksanaan kelompok sel terhadap pertumbuhan jumlah jemaat gereja. Pelaksanaan kelompok yang sel yang tertata rapi dan ideal, menyebabkan pertumbuhan jumlah jemaat menjadi meningkat. </p> Yusuf Slamet Handoko Copyright (c) 2023 DOREA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani https://ojs.sttcianjur.ac.id/index.php/dorea/article/view/17 Sun, 31 Dec 2023 00:00:00 +0700 Mengembangkan Kompetensi Guru Pendidikan Agama Kristen Berbasis Pembelajaran Abad XXI https://ojs.sttcianjur.ac.id/index.php/dorea/article/view/14 <p><em>Improving the quality of education cannot be separated from the development of competencies carried out by every individual educator, especially Christian Religion Education teachers, in increasing their abilities according to the demands of times. The demands of the times related to education, namely 21st-century learning, whose content requirements are the ability to think critically, creatively, and innovatively, master technology, information, and media, including problem-solving skills, and communicate and collaborate well. This study used a descriptive qualitative method with a questionnaire as a data collection tool related to the understanding and application of the 21st-century learning competencies of Christian Religion Education teachers who are members of the Subject Teacher Conference (MGMP). Qualitative methods provide a clear picture of the existing problems so that an objective conclusion can be drawn. The results of this study consisted of two parts, namely: First, related to the ability to understand and knowledge of the 21st-century learning concepts, showing that Christian Religion Education teachers significantly understood the concept of learning 21st values 100% with several competencies in it. Second, the application of 21st-century learning competencies shows a good value of 75%-100% of the learning model implemented in teaching and learning activities.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Peningkatan kualitas pendidikan tidak lepas dari pengembangan kompetensi yang dilakukan oleh setiap insan pendidik, terutama guru Pendidikan Agama Kristen dalam meningkatkan kemam-puan sesuai tuntutan zaman. Tuntutan zaman terkait pendidikan yaitu pembelajaran abad XXI yang syarat muatannya dengan kemampuan berpikir kritis, kreatif, inovatif, menguasai teknologi, informasi dan media, termasuk kemampuan pemecahan masalah, mampu berkomunikasi dan berkolaborasi baik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif bersifat deskriptif dengan dukungan kuesioner sebagai alat pengumpulan data terkait pemahaman dan penerapan kompetensi pembelajaran abad XXI dari para guru Pendidikan Agama Kristen. Responden merupakan guru Pendidikan Agama Kristen yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Metode kualitatif digunakan untuk memberikan gambaran yang jelas terhadap permasalahan yang ada, sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan yang obyektif. Hasil penelitian ini terdiri dari dua bagian, yaitu: Pertama, terkait dengan kemampuan pemahaman dan pengetahuan konsep pembelajaran abad XXI, menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama Kristen secara signifikan memahami konsep pembelajaran abab 21 sebesar 100% dengan beberapa kompetensi di dalamnya. Kedua, penerapan kompetensi pembelajaran abad XXI menunjukkan nilai baik sebesar 75%-100% dari model pembelajaran yang dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar. </p> Stevanus Parinussa, Ester Widiyaningtyas Copyright (c) 2023 DOREA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani https://ojs.sttcianjur.ac.id/index.php/dorea/article/view/14 Sun, 31 Dec 2023 00:00:00 +0700 Makna Mengikut Yesus dalam Analisis Teks Lukas 9:23 https://ojs.sttcianjur.ac.id/index.php/dorea/article/view/16 <p><em>In this research, the writer found many things about the meaning of following Jesus. Many opinions say that following Jesus would only bring blessings. trusted; they argue that the evil experienced by humans is evidence of the non-existence of God. So this sparked a debate that God is not the cause of this evil and suffering. Rather, evil and suffering are experienced by humans as a result of sins that humans themselves commit as a result of disobedience to God's commands. Because God created everything good, but man, because of his disobedience, resulted in sin and damage to himself, and it is this sin that makes man know that evil and suffering. From each of these debates, the author discusses the meaning of following Jesus based on Luke 9:23, where in this verse, Jesus himself commands and gives advice to every follower who wants to follow Him in which they must be ready to deny themselves, take up their cross and only then follow Him. The Lord Jesus knows that following Him is not easy in the midst of a world that does not know and even hates Him. In this article, the author uses the exegesis method with a four-layer approach to the meaning of the Bible (Historia, Theoria, Moral, and Anagogic); with this method, the author slowly discusses one by one and explains to readers the meaning of following Jesus based on Luke 9:23 and hopefully, this article can be a theological framework for every reader and can be applied in life as a follower of the Lord Jesus Christ.</em></p> <p> </p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Dalam penelitian ini banyak hal yang penulis temukan tentang makna mengikut Yesus ada banyak pendapat yang mengatakan bahwa mengikut Yesus akan hanya ada berkat yang di terima, akan tetapi kenyataan bahwa banyak pengikut Yesus yang mengalami penderitaan, sehingga para kaum Atheisme megambil kesempatan ini untuk mengklaim ketiadaan Tuhan yang di percayai; mereka berpendapat kejahatan yang dialami oleh manusia adalah bukti ketiadaan Allah. Sehingga hal ini memicu sebuah perdebatan bahwa bukan Allah penyebab kejahatan dan penderitaan tersebut. Melainkan kejahatan dan pederitaan itu dialami oleh manusia akibat dari dosa yang manusia sendiri lakukan akibat dari ketidaktaatan pada perintah Allah. Sebab Allah menciptakan segala sesuatu baik adanya tetapi manusia karena ketidaktaatannya mengakibatkan dosa dan kerusakan atas dirinya sediri dan dosa inilah yang membuat manusia mengenal kejahatan dan penderitaan itu. Sehingga dari setiap perdebatan ini penulis membahas makna mengikut Yesus berdasarka Lukas 9:23 di mana dalam ayat ini Yesus sendiri memerintahkan dan memberikan nasihat kepada setiap pengikut yang mau mengikuti Dia yang mana mereka harus siap menyangkal diri, memikul salib dan baru mengikut Dia. Tuhan Yesus tahu bahwa proses mengikuti-Nya bukanlah hal yang mudah di tengah dunia yang tidak mengenal dan bahkan membenci Dia. Dalam artikel ini penulis memnggunakan metode eksegesis dengan pendekatan empat lapisan makna Alkitab (Historia, Theoria, Moral dan Anagogic) dengan metode ini penulis pelan-pelan membahas satu persatu dan menjelaskan kepada para pembaca mengenai makna mengikut Yesus berdasarkan Lukas 9:23 dan semoga artikel ini dapat menjadi binkai teologis bagi setiap pembaca dan dapat di aplikasikan dalam kehidupan sebagai pengikut Tuhan Yesus Kristus.</p> Orna Dagi Copyright (c) 2023 DOREA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani https://ojs.sttcianjur.ac.id/index.php/dorea/article/view/16 Sun, 31 Dec 2023 00:00:00 +0700 Yesus sebagai Gembala dan Guru menurut Injil Yohanes dan Signifikansinya bagi Gembala Jemaat https://ojs.sttcianjur.ac.id/index.php/dorea/article/view/19 <p><em>The case of pastors who ignore their role in teaching the congregation and the problem of pastors who are not proficient in teaching God's Word are problems that still occur in a local church. According to the Gospel of John, this study aims to determine the significance of Jesus as a shepherd and teacher. Jesus, as the Great Teacher and also a shepherd, is a good example for the church pastor in carrying out his teaching role to the congregation. This study uses a qualitative descriptive method, with descriptive theological analysis techniques on the Gospel of John, so that researchers can understand the intent and purpose of these verses and events to gain significance for today's pastors.</em></p> <p><em>&nbsp;</em><em>&nbsp;</em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kasus gembala-gembala yang mengabaikan perannya dalam mengajar warga jemaat, serta persoalan gembala-gembala jemaat yang tidak mahir dalam mengajarkan Firman Tuhan merupakan persoalan yang masih terjadi pada sebuah gereja loka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui signifikansi Yesus sebagai gembala dan guru menurut Injil Yohanes. Yesus sebagai Guru Agung yang juga adalah seorang gembala merupakan teladan baik bagi gembala jemaat dalam mengerjakan peran mengajar kepada jemaat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan teknik analisis deskriptif teologis terhadap Injil Yohanes, agar peneliti dapat memahami maksud dan tujuan dari ayat dan peristiwa tersebut sehingga memperoleh signifikansi bagi gembala jemaat masa kini.&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> Stefanus Sujatmoko Copyright (c) 2023 DOREA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani https://ojs.sttcianjur.ac.id/index.php/dorea/article/view/19 Sun, 31 Dec 2023 00:00:00 +0700 Makna Doa Batin dalam Matius 6:6-8 Menurut Aphrahat dari Syria https://ojs.sttcianjur.ac.id/index.php/dorea/article/view/10 <p>Artikel ini menganalisis tentang makna doa dalam Matius 6:6-8 berdasarkan pandangan Aphrahat di buku The Syriac on Prayer and the Spiritual Life. Aphrahat menekankan bahwa doa batin membawa manusia pada pengalaman menjadi intim dengan Allah. Peneliti menggunakan metode studi literatur yang fokus pada satu sumber utama dan didukung oleh data-data dari jurnal, internet dan buku terkait topik yang dibahas. Makna doa batin dalam artikel ini menjadi pembahasan yang akan dipaparkan supaya menjadi intim dengan Allah. Peneliti juga menekankan bahwa doa batin bukan doa yang dibatasi oleh waktu, kondisi dan tempat melainkan doa yang dapat dilakukan oleh setiap orang yang mendambakan Allah di dalam hati. Doa batin bukan hanya berbicara tentang kata-kata doa, melainkan tentang hati yang datang menjumpai Allah secara pribadi dengan tulus dan murni di hadapan Allah. Dengan demikian, artikel ini akan membahas bagaimana menjadi intim dengan Allah melalui doa batin, keheningan, pikiran, hati dan jiwa kepada Allah.</p> <h1>ABSTRACT</h1> <p><em>This article analyzes the meaning of prayer in Matthew 6:6-8 based on Aphrahat's view in The Syriac on Prayer and the Spiritual Life. Aphrahat emphasizes that inner prayer brings people to the experience of being intimate with God. The researcher uses a literature study method that focuses on one main source and is supported by data from journals, internet and books related to the topics discussed. The meaning of inner prayer in this article is a discussion that will be explained in order to become intimate with God. The researcher also emphasizes that inner prayer is not a prayer that is limited by time, condition and place but a prayer that can be done by everyone who longs for God in the heart. Inner prayer is not just about the words of prayer, but about the heart that comes to meet God personally, sincerely and purely before God. Thus, this article will discuss how to become intimate with God through inner prayer, silence, mind, heart and soul to God.</em></p> <p> </p> <p><em> </em></p> Damehati Gulo Copyright (c) 2023 DOREA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani https://ojs.sttcianjur.ac.id/index.php/dorea/article/view/10 Sun, 31 Dec 2023 00:00:00 +0700